Khutbah Jumat Singkat: Jeratan Hawa Nafsu
Khutbah Jumat Singkat: Jeratan Hawa Nafsu ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 16 Safar 1448 H / 31 Juli 2026 M.
Khutbah Jumat Pertama: Jeratan Hawa Nafsu
Seseorang yang berpikir secara jernih akan menyadari bahwa seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mengandung kebaikan bagi dirinya. Sebaliknya, menuruti hawa nafsu dan syahwat secara terus-menerus hanya akan membawa kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai orang yang memperturutkan nafsunya:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan mengarahkannya sesudah Allah?” (QS. Al-Jatsiyah[45]: 23)
Seseorang yang ilmu agamanya dikalahkan oleh hawa nafsu, ilmu tersebut tidak akan memberikan manfaat sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengunci pendengaran, hati, serta menutup penglihatannya dari kebenaran.
Oleh karena itu Allah menganggap bahwa manusia yang paling sesat di muka bumi adalah para pengikut hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan hal ini di dalam Al-Qur’an:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashash[28]: 50)
Kesadaran sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala harus senantiasa ditanamkan, bukan menjadi hamba dari hawa nafsu maupun hamba setan. Menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebuah kemuliaan, sedangkan menjadi hamba setan dan hawa nafsu adalah kehinaan yang nyata.
Sebelum melakukan suatu perbuatan, hendaknya dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa amalan tersebut selaras dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Apabila keinginan pribadi berbenturan dengan syariat, kewajiban seorang muslim adalah mendahulukan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an serta yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits. Pembangkangan iblis la’natullah ‘alaih terjadi ketika ia diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘Alaihissalam, namun ia menolak akibat menuruti hawa nafsu dan kesombongannya.
Sifat sombong yang muncul di dalam diri iblis membuatnya merasa lebih baik daripada Nabi Adam ‘Alaihissalam. Iblis menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan logika serta akalnya sendiri sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Sad[38]: 76)
Iblis menganggap bahwa dirinya yang berunsur api lebih mulia daripada Nabi Adam ‘Alaihissalam yang diciptakan dari tanah. Pembangkangan terhadap perintah Rabb akibat menuruti hawa nafsu tersebut menyebabkan iblis binasa untuk selama-lamanya.
Pelajaran berharga terlihat pada peristiwa keluarnya Nabi Adam ‘Alaihissalam dari surga akibat terpedaya oleh godaan iblis hingga memakan buah dari pohon yang dilarang. Nabi Adam ‘Alaihissalam segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan taubatnya pun diterima.
Kisah penurutan hawa nafsu berlanjut pada putra Nabi Adam ‘Alaihissalam, Qabil, yang tega membunuh saudaranya, Habil. Kejahatan yang dipicu oleh hawa nafsu tersebut menjadikan Qabil turut menanggung dosa dari setiap peristiwa pembunuhan yang terjadi hingga hari kiamat. Penolakan kaum-kaum terdahulu terhadap ajaran para nabi dan rasul pun didasari oleh sikap memperturutkan hawa nafsu. Ajaran tauhid untuk menghambakan diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ditinggalkan demi mempertahankan adat istiadat nenek moyang yang menyimpang.
Penurutan terhadap hawa nafsu senantiasa membawa kebinasaan bagi kehidupan manusia. Kehidupan, kedamaian, serta kebaikan suatu bangsa tidak akan pernah tercapai hanya dengan mengandalkan pandangan manusia semata, melainkan melalui petunjuk wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagai Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui hal terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr[59]: 19)
Seseorang yang berpaling dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dijauhkan dari pemahaman atas kemaslahatan dirinya sendiri, sehingga mudah terjerumus ke dalam maksiat. Kesadaran untuk memperbaiki diri hanya timbul ketika seorang hamba kembali dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenikmatan menuruti hawa nafsu dan syahwat hanyalah bersifat sesaat yang kelak digantikan oleh penyesalan, pencabutan keberkahan, serta kesengsaraan jangka panjang. Penggunaan akal sehat sangat diperlukan untuk mempertimbangkan pilihan antara menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya atau menuruti keinginan pribadi semata.
Dorongan hawa nafsu kerap kali mengalahkan akal sehat manusia, hingga tidak lagi memedulikan kerusakan iman, agama, serta kehidupan akhirat demi mengejar kepuasan sesaat. Kondisi tersebut pada akhirnya memicu kehancuran yang fatal.
Khutbah Jumat Kedua: Jeratan Hawa Nafsu
Seluruh bentuk penyimpangan merupakan dampak nyata dari sikap mengikuti syahwat, memperturutkan hawa nafsu, serta berpaling dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesyirikan timbul akibat mendustakan dakwah para nabi dan rasul. Demikian pula berbagai kemaksiatan seperti perbuatan keji (LGBT), perzinahan, perjudian, hingga korupsi bersumber dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Download mp3 Khutbah Jumat: Jeratan Hawa Nafsu
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Jeratan Hawa Nafsu” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56424-khutbah-jumat-singkat-jeratan-hawa-nafsu/